BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Persatuan Guru
Republik Indonesia adalah organisasi yang lahir bersama Republik Indonesia
dalam mempertahankan kemerdekaan. Dengan sendirinya derap langkah perjuangannya
cukup panjang, berliku, penuh tantangan dan hambatan demi mencapai cita harapan
atau visi dan misinya sesuai dengan yang tersirat dalam Anggaran Dasar dan
Anggaran Rumah Tangga.
Sejarah perjuangan
PGRI dari masa ke masa dengan tujuan setelah memahami derap langkah perjuangan
PGRI mengetahui dan menghormati arti perjuangan tersebut kepada pendidikan,
bangsa dan negara, sehingga bersedia ikut serta meneruskan dan melestarikan
perjuangan untuk mencapai tujuan.
Perjuangan PGRI
dari masa orde lama ke masa orde baru yang mengacu dari keputusan kongres,
Konferensi pusat, anggaran dasar dan anggaran rumah tangga.
Dalam rangka
memenuhi tuntutan masyarakat yang makin meningkat untuk memperoleh pendidikan,
maka PGRI sejak awal berdirinya telah menyelenggarakan sekolah-sekolah,
berdasar Kongres XIV memutuskan dan menegaskan bahwa pembinaan lembaga pendidikan
PGRI perlu dilakukan secara konseptual, nasional dan terkendali secara
organisatoris. Keputusan ini diambil karena PGRI sudah waktunya memberikan
perhatian yang lebih serius terhadap pembinaan lembaga pendidikannya.
PGRI berjuang
dengan penuh tantangan dalam rangka mencapai tujuan dan mendukung terwujudnya
nasional bangsa Indonesia.
1.2
Rumusan Masalah
Sejarah perjuangan PGRI dari masa orde lama ke masa ordebaru.
1.3
Tujuan Masalah
Untuk mendiskripsikan sejarah
perjuangan PGRI dari masa orde lama ke masa orde baru.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1
PGRI Pada Masa Demokrasi
Terpimpin 1959 – 1965 ( Era Orde Lama )
1.
Kongres IX di Surabaya
BI Oktober/Nompember 1959 :
Seperti pada kongres
sebelumnya Subandri dkk, melancarkan aksinya dengan mengadudomba, memfitnah
peserta untuk memasukkan faham kominis dan menempatkan orangnya ke tubuh PB
PGRI. Namun masih juga tidak berhasil dan ME. Subandinata tetap terpilih
sebagai Ketua Umum PB PGRI.
2.
Kongres X di Gelora Bung Karno
Jakarta Th. 1962 :
Periode 1962 – 1965
adalah episode paling sulit abgi PGRI, karena timbul “perpecahan” dengan dalih
“machtsvorming en machtsaanwending” (pembentukn kekuatan dan penggunaan
kekuatan) oleh “kubu kominis” dan berhasil menunjuk Soepardi dan Goldfried
menjadi ketua Panitia Pemilihan PB PGRI, tetapi diketahui peserta bahwa
Goldfried adalah tokoh PKI yang ikut membuat selebaran gelap dan fitnah, maka
dikeluarkan. Pemilihan berjalan lancar dan “ME. Subandinata” terpilih lagi
menjadi “Ketua Umum PB PGRI”
Beberapa kejadian pahit
akibat infiltrasi kominis ketubuh PGRI setelah Kongres IX s/d G.30 S/PKI 1965 :
1.
PGRI kekurangan dana akibat
sabotase PKI (terutama Jawa Timur dan Jawa Tengah iuran tidak masuk)
2.
PGRI terpecah akibat pengaruh
politik dan faham kominis.
3.
Sistem pendidikan Pancasila
akan diganti berasaskan Manipol (Manifesto Politik) oleh pengurus PGRI yang
berfaham kominis.
4.
Pelaksanaan dekrit Presiden
menyimpang dari tujuan (menyimpang dari UUD 1945) antara lain : Pemerintah
berpusat pada satu tangan yaitu “Presiden” dan ditetapkan “Bung Karno sebagai
Pemimpin besar Revolusi” serta “Presiden Seumur Hidup”.
5.
Ada ungkapa “Politik adalah
Pahlawan”
6.
Kelihatan jelas garis pemisah
“siapa kawan dan siapa lawan” Di PGRI kawan adalah semua “Golongan Pancasilais
anti PKI” yang dalam pendidikan berusaha mengamankan Pancasila. Dan Lawan
adalah PKI yang berusaha memaksakan pendidikan “Panca Cinta dan Panca Tinggi”.
7.
Lahir “PGRI Non Vak Sentral”
yang berfaham kominis, BI Juni 1964 memisahkan diri dari PGRI hasil Kongres X.
8.
Persaingan kelompok di
masyarakat makin tajam yang tidak sependapat dengan pemerintah dituduh kontra
revolusi anti manipol agen subversi asing dll
9.
Politik NASAKOM (Nasional Agama
Komunis) dibentuk berlandaskan persatuan semu oleh PKI dipergunakan untuk
memperkuat dominasi politiknya selain itu PKI melancarkan isu “Setan Desa,
Kapitalis Birokrat, Nekolem (Neokolonialisme)” untuk menjatuhkan wibawa
pemerintah.
10.
Pidato Inaugari Majelis
Pendidikan Nasional (mapena) oleh Dr. Busono Wibowo sangat meresahkan pendidik
(PGRI) karena berisi Sistem Pendidikan Pancwardana diisi moral Panca Cinta
Pancawardana : 1. Perkembangan cinta tanah air/bangsa, moral
nasional/internasional keagamaan, 2. Perkembangan kecerdasan, 3. Perkembangan
emosional artistik lahir batin, 4. Perkembangan keprigelan/kerajinan tangan, 5.
Perkembangan jasmani, moral Panca Cinta, cinta nusa dan bangsa, cinta kerja dan
rakyat yang bekerja, cinta perdamaian dan persahabatan, cinta orang tua (Suara
Guru No. 11/1995).
11.
Tahun 1964 ada pemecatan massal
(27 Orang) pejabat penting Dep. P dan K yang anti PGRI NV/PKI, oleh Menteri Dep
P dan K Prof.Dr. Prijono.
2.2
PGRI Pada Masa Demokrasi
Pancasila (Era Orde Baru) Th. 1966-1998
1.
Kesatuan Aksi Guru
Indonesia (KAGI)
Dilihat dari perspektif PGRI, peristiwa G
30S/PKI merupakan puncak dari pada yang sebelumnya berlangsung dalam tubuh PGRI
yaitu perebutan pengaruh antara kekuatan anti-PKI dan pro-PKI, infiltrasi dan
fitnah oleh pro-PKI, berdirinya PGRI non-vaksentral dan lain-lain. Setelah
terjadinya peristiwa tersebut, PGRI Kongres (yang dibedakan dari PGRI
Non-vaksentral) dibawah pimpinan ME. Subandinata dan kawan-kawan berperan aktif
dalam kubu yang menggayang PKI dan ormas-ormasnya. Bersama para pelajar,
mahasiswa, sarjana, dan lain-lain, para guru anggota PGRI turun kejalan dengan
meneriakkan Tritura (Tri Tuntutan Rakyat), yakni “Bubarkan PKI, Ritul Kabinet
100 menteri, dan turunkan harga-harga”. Mereka membentuk kesatuan aksi-aksi,
misalnya KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia), KAPPI (Kesatuan Aksi Pelajar
dan Pemuda Indonesia), KASI (Kesatuan Aksi Sarjana Indonesia), seangkan para
guru membentuk KAGI (Kesatuan Aksi Guru Indonesia) pada tanggal 2 Pebruari
1966.
Bagi PGRI Konres KAGI merupakan wahana
untuk mempersatukan semua organisasi guru yang tadinya dikotak-kotak sebagai
produk politik Orde Lama. PGRI bersama-sama dengan Persatuan Guru NU, Ikatan
Guru Muhammadiyah, Ikatan Guru Serikat Islam Indonesia (Serikat Islam
Indonesia). Ikatan Guru Marhaenis (PNI Osa-Usep), Persatuan Guru Kristen
Indonesia, dan Ikatan Guru Katholik membentuk KAGI. Khusus di Jawa Barat
dibentuk KAPPP (Kesatuan Aksi Pembela Pendidikan Pancasila) atau disebut juga
“KAGI Edisi Jawa Barat”. Perlu ditambahkan bahwa KAGI pada mulanya terbentuk di
Jakarta Raya (KAGI Jaya) dan Jawa Barat (KAPPP), tetapi KAGI adalah kemudian
berturut-turut terbentuk pula KAGI diberbagai provinsi lainnya. Tugas utama :
a. Membersihkan dunia pendidikan dari unsur-unsur PKI dan Orde Lama, yaitu PGRI
Non-vaksentral ? PKI, Serikat Pekerja Pendidikan, dan PDTI (Persatuan Guru
Tehnik Indonesia), b. Menyatukan semua guru didalam satu wadah organisasi guru
yaitu PGRI, c. Memperjuangkan agar PGRI menjadi organisasi guru yang tidak
hanya bersifat unitaristik tetapi juga Independen dan non partai politik.
Semula, Kongres XI PGRI direncanakan untuk
diadakan pada tahun 1965, namun sudah dua kali tertunda, Pertama, pada bulan
November 1965 kongres tidak jadi dilaksanakan karena terjadinya pemberontakan G
30S/PKI. Kedua, pada bulan November 1966 kongres juga tidak jadi dilaksanakan
karena adanya “dualisme” dalam kepemimpinan nasional dan kehidupan politik di
Indonesia, yaitu antara Ir.Soekarno
yang secara De facto telah lumpuh kekuatannya dengan Mayjen TNI.Sueharto
yang menjadi pejabat presiden pada ketika itu. Para pendukung Orde Lama tidak
mengakui kekuasaan Soeharto sebagai pimpinan Orde Baru; sebaliknya para
pendukung Orde Baru tidak lagi mengakui kekuasaan Ir.Soekarno. Disamping itu,
pada saat bersamaan ada anjuran dari pemerintah untuk tidak menyelenggarakan
kongres sehubungan dengan akan dilaksanakannya Sidang Umum MPRS 1966 Selama tahun
1966, PGRI praktis disibukkan dengan tugas-tugas utama KAGI dan dikonsolidasi
organisasi yang dimulai pada awal tahun 1967 melalui persiapan Kongres
"PGRI Orde Baru" (kongres XI) di Bandung.
Pada
tanggal 15-20 Maret 1967 Kongres XI akhirnya
terlaksana dengan mengambil tempat digedung bioskop alun-alun Bandung. Dalam
Kongres ini terasa sekali peralihan zaman Orde Lama kezaman Orde Baru. Antara
lain masih terlihat sisa-sisa kekuatan Orde Lama yang mencoba menguasai kembali
kongres dengan cara menolak PGRI untuk masuk kedalam Sekber Golkar dan
memojokan M.E. Subandinata dkk. Agar tiak terpilih dalam PB.PGRI. Peranan
utusan PGRI Jakarta Raya, jawa barat, Sulawesi Selatan, Sumatra Barat, Sumatra
Selatan, dan Jawa Timur sangat menonjol dalam mengarahkan Kongres XI sebagai
tonggak sejarah perjuangan PGRI pada era pasca-Orde Lama.
Kejelasan arah ini mulai tampak ketika sambutan mentri
P & K Kisarino MangTun Pranoto yang masih berbau Orde Lama ditolak oleh
kongres.
Bukti keberhasilan kekuatan Orde Baru
dalam kongres ini terlihat dari hasil-hasil kongres
dibidang umum/politik dan susunan PB PGRI masa bakti XI. Adapun hasil-hasil
kongres XI dibidang umum
dan politik adalh sebagai berikut:
v Memenangkan perjuangan untuk
menegakkan dan mengembangkan Orde Baru demi
suksesnya Dwi Gharma
dan Catur Karya Kabinet Ampera.
v Mendukung sepenuhnya keputusan dan
ketetapan Sidang Umum Istimewa MPRS 1966
v Pancasila sebagai dasar dan
falsafah negara sebagaimana tercantum dalam pembukaan UUD 1945
v Menolak manifesto politik
(Manipol) sebagai haluan negara
v Menjunjung tinggi tinggi Hak Asasi
Manusia
v Semua lembaga negara yang
ekstra-konstitusional supaya segara dibubarkan
v Mengikis habis sisa-sisa
Gestapu/PKI dengan berpegang teguh pada instruksi KOTI 22 dan KOGAM 09
v PGRI Non-Vaksentral/PK1, Serikat
Sekerja Pendidikan, PGTI dinyatakan sebagai ormas terlarang karena merupakan
organisasi antek PKI.
v Diaktifkannya kambali 27 pejabat
Kementrian P & K yang dipecat oleh Menteri P &
K Prof. Prijono, karena mereka
mempertahankan pendidikan yang berdasarkan Pancasila .serta menolak Panca Cinta
dan Panca Tinggi.
v Disetujuinya PGRI untuk bergabung
dalam barisan Sekber Golkar
v PGRI diwakili secara resmi dalam
DPRGR/MPRS.
v Fron Nasional dibubarkan.
v Dasar Pendidikan Nasional Pancasila dan UUD 1945
v PGRI ditegaskan kembali sebagai organisasi yang bersifat
unitaristik, independen, dan non partai politik.
Selanjutnyam hasil Kongres XI
PGRI dibidang organisasi antara lain :
v Konsolidasi dan pengembangan organisasi ke dalam dan ke luar untuk
menciptakan kekompakan pada seluruh potensi pendidikan.
v Perubahan dan penyempurnaan AD/ART PGRI yang sesuai dengan
perkembangan politik Orde Baru.
v Istilah Panitera Umum diganti dengan Sekretatis Jenderal, dan
Panitera diganti dengan Sekertaris.
v Perluasan keanggotaan PGRI dari guru TK sampai dengan Dosen
Perguruan Tinggi.
v Penentuan criteria / persyaratan pengurus PGRI mulai tingkat
Pengurus Besar, Pengurus Daerah, Pengurus Cabang hingga ranting.
v Intensifikasi penerangan tentang kegiatan organisasi melalui pes,
radio, TV, majalah Suara Tritura-Ampera.
v PGRI menjadi anggota WCOTP (World Confederation of Organization
of the Teaching Profession)
v Menyatakan PGRI siap untuk menjadi tuan rumah pelaksanaan Asian
Regional Conference (ARC-WCOPT).
2.
Konsilidasi Organisasi
pada Awal Orde Baru
Konsolodasi organisasi PGRI dilakukan
kedaerah-daerah dan cabang-cabang, dengan prioritas ke Jawa Tengah dan Jawa
Timur. Pembenahan pada kedua daerah tersebut tidak saja akibat kuatnya pengaruh
PGRI Non-vaksentral/PKI sebelumnya, tetapi juga menyangkut masalah dualisme
didalam kepemimpinan nasional. Inni berula dari zaman Orde Lama ketika politik
menjadi panglima, sehingga banyak guru dan pengurus PGRI memilih dan berlindung
dibawah partai-partai politik yang berkuasa pada waktu itu.
Menarik juga untuk disimak kembali tulis
diharian Kompas tahun 1967 yang berjudul “Porak-porandanya kereta PGRI di Jawa
Tengah”. Tulisan yang merupakan serangan kepada PB PGRI masa perserikatan
(kongres) XI, karena kelompok tertentu merasa tidak terwakili dalam susunan PB
PGRI dan PGRI dianggap terlalu dekat dengan TNI Angkatan Darat serta Sekber
Golkar. Betapapun ini merupakan bagian dari sejarah PGRI.
Kunjungan-kunjungan PB PGRI secara
intensif ke Jawa Tengah dan Jawa Timur melalui Panglima Militer setempat mutlak
diperlukan. Utusan PB PGRI yang sering dikirm ke Jawa Timur adalah ME.
Subandinata (Ketua Umum PB PGRI), Slamet (Sekretaris
Kemasyarakatan/Kebudayaan), Drs. M. Rusli Yunus (Sekretaris Sosial-Ekonomi),
Drs. WDF. Rindorindo (Sekretaris Pendidikan), dan T. Simbolon (Sekretaris Penerangan/Humas).
Hal ini dilakukan untuk menghimbau dapar pengurus daerah yang masih merasa
ragu-ragu agar mengerti aspirasi Orde Baru dan menyadari bahwa sikap kepala
batu mereka dapat menyebabkan PGRI dapat dibekukan atau dibubarkan oleh
penguasa militer. Pembentukan KAGI di Jawa Timur dan Jawa Tengan, antara lain
untuk menyelamatkan PGRI dari kemelut politik pada waktu itu. Hasilnya adalah
Konferda PGRI dikedua daerah tersebut berhasil memilih Pengurus Daerah PGRI
yang baru.
Sejak selesainya kongres XI, PB PGRI telah
menghadiri Konferda di 21 provinsi, termasuk Irian Barat, sebelum pelaksanaan
pepera (Penentuan Pendapat Rakyat) atau Act of Free Choice teparnya pada
bulan Maret 1968, Kementrian Dalam Negeri dan Kementrian P & K
memberangkatkan utusan dengan tugas khusus untuk mengkonsolidasikan PGRI Irian
Barat sebagai persiapan menghadapi pepera yang akhirnya dimenangkan oleh rakyat
yang pro-Republik Indonesia.
Dua daerah yang menghadapi masalah cukup
serius pada masa peralihan Orde Lama ke Orde Baru adalah Sumatera Barat dan
Utara. Kelompok yang tadinya menguasai PGRI di kedua daerah itu, berupaya
bertahan menghadapi perkembangan di tanah air. Pada akhir tahun 1967. ketua
Umum PGRI ME. Subandinata bersama KAGI hadir memberi penjelasan perkembangan
politik pasca Orde Lama selama satu hari di sekolajh don bosco padang. Akhirnya
berhasil dilaksanakan serah terima jabatan Pengurus Daerah Sumatera Barat/Utara
di kediaman Gubernur Sumatera Barat. Peristiwa ini merupakan penyelamatan
kekuatab orde baru di provinsi tersebut.
Diluar perkembangan politk kerjasama yang
baik antara pimpinan Dep P & K tentang penyusunan “Ejaan Baru Bahasa
Indonesia”. Dilaksanaan dengan mengikutsertakan organisasi kemayarakatan
dan instansi terkait dengan bahasa indonesia atas usul PGRI yang sebelumnya
hanya ditangani Dep P dan K.
Selanjutnya pada awal tahun 1969 atas
desakan “Panitia Perbaikan Nasib Guru” yang dibentuk oleh PGRI
pemerintah setuju untuk mencairkan kembali tunjangan kelebihan jam mengajar
bagi guru SD seluruh Indonesia. Waktu itu PB PGRI diundang ke Jl. Merdeka barat
No. 15 Jakarta oleh Menteri P dan K bersama Mendagri dan Menkeu untuk
menyampaikan persetujuan Presiden tentang realisasi tunjangan tersebut.
Hubungan antara PGRI dengan organisasi
guru luar negeri dirintis kembali pada Bulan Juli 1966, PGRI diterima menjadi
anggota WCOTP dalam kongres guru se dunia di Seoul Korea Selatan. Hal ini
merupakan era baru dalam kehidupan PGRI sementara itu pelaksanaan Asean
Regional Konferensi (ATP WCOTP) di Jakarta pada bulan April 1969, menandai
untuk pertama kalinya PGRI menjadi tuan rumah konferensi internasional
organisasi guru. Keberhasilan konferensi ini telah membuka cakrawala baru dalam
hubungan internasional PGRI.
Setelah itu PGRI diundang untuk mengikuti “Frade
Union Leader Course” di negara Belanda selama 4 bulan, dengan bantuan Dep
Tenaga Kerja dan berkeja sama dengan Serikat Buruh Belanda. Kursus diadakan dua
angkatan. Angkatan I tahun 1969, angkatan II tahun 1970. Melalui Drs. M. Rusli
Yunus PGRI diundang pula oleh IFFTU (The Inernational Federation of Free
Teachers Union) dan EEC (Europeon Economic Community) sekarang
menjadi Unin Eropa (EU.European Union) selama satu minggu di Brassel,
Belgia. Dan satu minggu di Jerman barat atas undangan FES (Frederich Elber
Stifing).
3.
Arti Lambang PGRI
Pada tahun 1970, kongres XII PGRI kembali
digelar di Bandung yang memunculkan Basyuni Suriamihardja untuk pertama kalinya
memimpin PB PGRI yang bertahan lebih dari 25 tahun. Basyuni menjadi orang kedua
yang paling lama memimpin PGRI setelah ME.Subandinata. adapun
keputusan-keputusan penting dari kongres ini adalah sebagai berikut :
·
Perubahan struktur dan
basis-basis organisasi PGRI, yaitu tingkat Cabang meliputi wilayah
kabupaten/kotamadya, sedangkan wilayah Anak Cabang adalah kecamatan.
·
Administrasi organisasi
disederhanakan dan diseragamkan untuk seluruh Indonesia.
·
Lambang PGRI dan Mars PGRI
dilampirkan dalam buku AD/ART PGRI.
·
Dalam rangka peringatan 25
tahun PGRI (November 1970), PB PGRI hendaknya menerbitkan Buku Sejarah
Perjuangan PGRI, yang juga menegaskan sifat-sifat PGRI yang unitaristik,
independen, dan non partai politik.
·
Memanfaatkan keanggotaan PGRI
dalam WCOTP untuk meningkatkan kerjasama internasional yang berorientasi pada
kepentingan nasional serta mengindahkan dengan sungguh-sungguh politik
bebas-aktif yang dianut oleh Indonesia.
·
Menyetujui PGRI menjadi anggota
IFFTU sepanjang tidak merugikan dan tidak mengurangi identitas PGRI.
·
Dalam rangka kerjasama dengan
negara-negara ASEAN PGRI hendaknya memainkan peranan, terutama dalam pembangunan
pendidikan dan kebudayaan di Indonesia.
·
PB PGRI hendaknya menetapkan
pedoman tentang kebijaksanaan pengiriman petugas-petugas PGRI ke luar negeri
agar petugas/pengurus daerah dapat memperoleh kesempatan.
Kongres XIII PGRI tahun 1973 di Jakarta menetapkan
perubahan-perubahan yang mendasar dalam bidang organisasi serikat pekerja
menjadi organisasi profesi guru ditetapkan Kode Etik Guru Indonesia, perubahan
lambang dan panji organisasi PGRI yang sesuai dengan organisasi profesi guru
dan adanya Dewan Pembina PGRI mengenai arti lambang PGRI dapat dijelaskan
sebagai berikut :
§ Bentuk cakra/lingkaran melambangkan cita-cita luhur dan daya upaya
menunaikan pengabdian yang terus menerus.
§ Ukuran, corak, dan warna bidang bagian pinggir lingkaran berwarna
merah melambangkan pengabdian yang dilandasi kemurnian dan keberanian bagi
kepentingan rakyat. Warna putih dengan tulisan “Persatuan Guru Republik
Indonesia” melambangkan pengabdian yang dilandasi kesucian dan kasih sayang.
Paduan warna pinggir merah-putih melambangkan pengabdian kepada negara, bangsa
dan tanah air Indonesia.
§ Suluh berdiri tegak bercorak 4 garis tegak dan datar berwarna kuning
melambangkan fungsi guru (pada pendidikan pra-sekolah, dasar, menengah, dan
perguruan tinggi) dengan hakikat tugas pengabdian guru sebagai pendidik yang
besar dan luhur.
§ Nyala api dengan 5 sinar warna merah melambangkan arti ideologi
Pancasila dan arti teknis yakni sasaran budi pekerti, cipta, rasa, karsa, dan
karya generasi.
§ Empat Buku mengapit suluh dengan posisi 2 datar dan 2 tegak
(simetris) dengan warna corak putih melambangkan sumber ilmui yang menyangkut
nilai-nilai moral pengetahuan keterampilan dan akhlak bagi tingkatan
lembaga-lembaga pendidikan pra-sekolah dasar menengah dan tinggi.
§ Warna dasar tengah hijau melambangkan kemakmuran generasi.
Arti keseluruhan, Guru Indonesia dnegan itikad dan kesadaran pengabdian yang murni
dengan segala keberannian, keluhuran jiwa dan kasih sayang senantiasa
menunaikan darma baktinya kepada negara, tanah air dan bangsa Indonesia dalam
mendidik budi pekerti, cipta rasa, karsa, dan karya generasi bangsa menjadi
manusia Pancasila yang memiliki moral, pengetahuan, keterampilan dan akhlak
yang tinggi.
Penggunaan
: 1. sebagai lembaga/lencana, 2. sebagai panji resmi dalam upacara dan panji hiasan,
3. dipancangkan mendampingi bendera nasional merah-puitih dalam upacara /
pertemuan organisasi atau pertemuan lainnya yang diselenggarakan oleh PGRI.
4.
Berdirinya YPLP PGRI dan
Wisma Guru
Kongres XIV PGRI tanggal 26-30 Juni 1979
di Jakarta menghasilkan salah satu keputusan penting yaitu mengenai pendirian
Wisma Guru. Untuk mewujudkannya mulai Januari 1980 setiap anggota PGRI dihimbau
untuk menyumbang Rp. 1000,-. Direncanakan Wisma Guru ini akan sekaligus menjadi
Kantor PB PGRI yang dilengkapi dnegan ruang pertemuan perpustakaan kamar
pemondokan / penginapan dan sebagainya.
Dalam rangka memenuhi tuntutan masyarakat
yang makin meningkat untuk memperoleh pendidikan, maka pGRI sejak awal
berdirinya telah menyelenggarakan sekolah-sekolah yang meliputi semua jenis dan
jenjang sekolah di seluruh tanah air sebagian sudah dijadikan sekolah-sekolah
Negeri. Ada diantara sekolah-sekolah PGRI didirikan oleh Pengurus Propinsi
Kabupaten cabang / Kecamatan Ranting Desa bahkan oleh perorangan anggota PGRI
sampai akhir tahun 1979 belum ada pembinaan terarah secara nasional sehingga
kurang efektif dan efisiennya pengelolaan sekolah tersebut. Berdasar kenyataan
tersebut, maka kongres XIV memutuskan dan menegaskan bahwa pembinaan lembaga
pendidikan PGRI perlu dilakukan secara konsepsional, nasional dan terkendali
secara organisasi keputusan inidiambil karena PGRI sudah waktunya memberikan
perhatian yang lebih serius terhadap pembinaan lembaga pendidikannya.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Secara singkat dipaparkan mengenai sejarah
perjuangan dimasa orde lama ke masa orde baru dengan tujuan bahwa organisasi
ini dapat mewujudkan cita-cita proklamasi kemerdekaan negara kesatuan Republik
Indonesia dan mempertahankan, mengamalkan serta melestarikan Pancasila dan UUD
1945. berperan aktif mencapai tujuan nasional dalam mencerdaskan kehidupan
bangsa dan membentuk manusia indonesia seutuhnya. Berperan serta mengembangkan
sistem dan pelaksanaan pendidikan nasional. Mempertinggi kesadaran dan sikap
guru, meningkatkan mutu dan prfesi guru tenaga kependidikan lainnya. Menjaga,
membela, memelihara dan meningkatkan harkat martabat guru melalui peningkatan
kesejahteraan anggota serta kesetiakawanan organisasi.
Masa depan menuntut semakin tingginya
kualitas daripada semata-mata kuantitas. Peningkatan kualitas profesi
diperlukan oleh para guru pada semua jenis dan jenjang pendidikan. Untui itu
PGRI dituntut untuk lebih akrab dengan berbagai permaslaahan yang dihadapi oleh
para guru. Hal ini pada gilirannya akan berimplikasi pada strategi pengembangan
organisasi dan kepemimpinan PGRI yang bukan hanya mengenadilakan pola yang
konvensial dengan titik berat pada aspek kuantitatif, massal seperti selama ini
dilakukan melainkan harus diimbangi oleh pola strategis yang lebih bersifat
kualitatif.
Beberapa babakan perjuangan yang mengacu
dari keputusan kngres, konferensi pusat. Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah
Tangga makin lama harus makin bersifat pedagogis dan umiah sehingga PGRI
menjadi suatu masyarakat umiah ini juga berarti bahwa kode etik guru indonesia
tidak hanya diucapkan, tetapi juga berkembang dalam sikap pola tindakan dan
prestasi para anggota PGRI yang makin profesional.
3 komentar:
Makasih atas info'a kk ({})
mengapa pgri tidak menerima idiologi komunis
Karena komunis tidak menganut pancasila & UUD di indonesia,buat apa diterima,sudah jelas mereka yg akan merusak bangsa
Post a Comment